HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Inovasi Sapi Potong

 http://harianbhirawa.com/2018/01/inovasi-sapi-potong/
 
 
Keinginan presiden Jokowi mewujudkan harga daging yang terjangkau, belum bisa terwujud. Mahalnya harga daging sapi di Indonesia (sebagai yang termahal di dunia), memang mencengang-kan. Presiden yang turut gemas, sampai meng-instruksikan harga daging tidak lebih dari Rp 80 ribu per-kilogram. Jika tidak dapat diwujudkan, pemerintah akan tetap membuka izin impor daging. Termasuk daging kerbau dari India sebanyak 100 ribu ton.
Harga daging terjangkau, pernah terjadi. Tetapi hanya empat bulan setelah instruksi presdiden. Termasuk dengan fasilitasi angkutan, berupa kapal motor khusus (KM Cemara Nusantara). Sarana distribusi ini, melayani pelayaran khusus di sentra-sentra sapi. Antaralain, NTT (Nusa Tenggara Timur), NTB (Nusa Tenggara Barat), dan Jawa Timur. Serta sentra kerbau di Sulawesi Selatan.
Angkutan, menjadi salahsatu mata rantai strategis perdagangan daging. Dengan angkutan khusus itu (KM Cemara Nusantara), ongkos angkut yang mahal bisa ditekan. Semula antara Rp 1,5 juta sampai Rp 1,8 juta per-ekor, sekarang ongkos angkos hanya menjadi Rp 350 ribu. Ini penghematan besar-besaran, memangkas biaya angkut sampai 80%. Selanjutnya, renteng distribusi juga wajib dipangkas. Terutama menghapus peran blantik (calo perdagangan sapi) besar.
Harga daging murah ber-keadilan, seharusnya bisa diwujudkan. Pemerintah pernah mencoba melalui program gelar pangan murah TTI (toko tani Indonesia).Harga daging sapi dijual murah.Bahkan sangat “miring,” senilai Rp 70 ribu untuk daging beku, dan Rp 75 ribu per-kilogram daging segar. Kalkulasi harga sudah cukup memberi keuntungan yang adil pada pelaku usaha perdagangan daging. Walau harga di pasar tradisional, daging sapi beku dijual dengan harga Rp 100 ribu-an.
Kalkulasi harga “miring” program TTI ini bekerjasama dengan pengusaha feedloter.Perhitungannya dimulai dengan harga Rp 30 ribu per-kilogram sapi hidup (sekitar Rp 9 juta hingga Rp 10,5 juta per-ekor). Harga ini melambung setelah menjadi rendeman (sudah dibersihkan berupa potongan daging siap jual), mencapai Rp maksimal Rp 76 ribu. Selanjutnya, hanya dibutuhkan lebih banyak kapal angkut khusus sapi, yang siap lego jangkar di sentra sapi di Jawa Timur, NTB dan NTT.
Tetapi harga daging terjangkau tak bertahan lama. Masih menjadi “permainan empuk” spekulan. Anehnya selalu lebih murah dibanding harga daging sapi lokal. Ironis lagi, daging impormemiliki mutu lebih baik. Ditandai dengan karkas (daging murni tanpa lemak) yang sangat banyak. Konsumsi daging sapi diperkirakan mencapai 500 ribu ton. Menurut perhitungan Kementerian Pertanian (Kementan), kesiapan penyediaan daging lokal mencapai 441 ribu ton.
Maka kekurangan yang harus dipenuhi melalui impor hanya 48 ribu ton. Dalam rupiah, bisnis impor omzetnya mencapai Rp 3,8 trilyun (dengan harga Rp 80 ribu per-kilogram).Tiga Kementerian (Perdagangan, Pertanian dan BUMN) bekerja keras merealisasi harga daging terjangkau. Walau dengan cara paling mudah, yakni membuka kuota impor daging lebih besar. Bulog, sudah diperintahkan (segara) meng-impor daging sapi sebanyak 100 ribu ton.
Nilai devisa yang digelontor cukup besar. Jika harga (dasar) daging sebesar Rp 50 ribu, maka harus dibutuhkan sebesar Rp 5 trilyun. Nilai bisnis impor daging, seyogianya bisaditekan bertahap. Antaralain dengan program penyediaan bakalan sapi unggul, dengan teknologi penggemukan sederhana. Inovasi penggemukan sapi dengan mutu karkas (daging bersih) telah banyak dilakukan di berbagai daerah. Salahsatunya di Tuban, Jawa Timur.
Buktinya, hewan kurban milik presiden Jokowi, bobotnya mencapai 1,5 ton. Serta hewan kurban milik Wapres Jusuf Kalla, seberat 1 ton. Peternak lokal, bisa. Namun tidak memperoleh fasilitasi pemerintah.

www.desaingue.com