HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Bisnis Sapi Potong Kian Terancam

 http://www.koran-jakarta.com/bisnis-sapi-potong-kian-terancam/
 
 

Pemerintah mengambil jalan pintas dengan membuka keran impor karena relatif mudah memperbaiki pasokan ketimbang pada bagian hulu.
JAKARTA – Kebijakan importasi daging beku oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Pertanian (Kementan) dapat mengancam keberlangsungan bisnis ternak sapi potong rakyat. Bahkan, kebijakan tersebut cenderung berdampak buruk dalam jangka waktu panjang.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf, menyampaikan kondisi terkini bisnis ternak sapi potong rakyat mulai terdampak kebijakan impor daging beku tersebut. Sebab, daging beku impor telah sampai ke pasar-pasar, bukan hanya di Jakarta, tetapi merata di Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Banyaknya serbuan daging impor itu tentunya merugikan peternak lokal sebab tidak mampu bersaing dengan harga daging impor yang sangat kompetitif. Dampaknya, peternak rakyat yang melakukan budi daya sapi sudah tidak lagi berorientasi pada bisnis ternak sapi potong harian.
“Banyak peternak yang beralih profesi karena bisnisnya tak ekonomis lagi,” ungkapnya dalam diskusi bersama media, di Jakarta, Senin petang (5/6).
Peternak rakyat, lanjut Rochadi, hanya mengandalkan momentum Idul Adha saja bila masih ingin berdagang. Sebab, saat itu, harga sapi cukup tinggi dari hari-hari biasanya. Dia mencontohkan, jika pada hari biasa hanya seharga 40 ribu rupiah per kilogram (kg), pada momen hari kurban bisa mencapai 60 ribu rupiah per kg.
PPSKI mengaku telah menyampaikan keluhan itu DPR, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda ke arah perbaikan. Pihaknya masih berharap adanya perbaikan regulasi ke depannya yang bisa membantu peternak lokal.
Hasil sensus ternak oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi sapi dan kerbau mencapai 16,2 juta ekor. Namun, dari data Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) justru berbicara lain karena hanya mencapai 12,5 juta ekor.
Seperti diketahui, kran impor daging beku dibuka untuk mengatasi tingginya harga daging dalam negeri. Bahkan, setelah sekian tahun berjalan, harga daging tetap saja tinggi dan menciptakan keseimbangan harga baru, yakni sekitar 115 ribu rupiah per kg, jauh dari keseimbangan harga sebelumnya yang masih sekitar 85 ribu rupiah per kg.
Kegagalan Pemerintah
Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudisthira, menegaskan peningkatan impor daging sapi sebenarnya bentuk kegagalan pemerintah mengatasi lonjakan harga pangan. Menurut dia, pemerintah mengambil jalan pintas dengan membuka keran impor karena relatif mudah memperbaiki pasokan ketimbang memperbaiki hulu pagan.
“Di saat harga tinggi peternak lokal tidak mendapatkan untung yang proporsional, sementara ketika banjir impor yang membuat harga sedikit turun peternak juga tak mendapatkan keuntungan,” katanya. ers/E-10

www.desaingue.com