HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Ini Hasil Pantauan Kementan Terkait Harga dan Pasokan Daging

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/02/191500326/ini.hasil.pantauan.kementan.terkait.harga.dan.pasokan.daging
 
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan pantauan penjualan daging sapi dan kerbau impor di sejumlah pasar di jakarta. 
Yakni di Pasar Jatinegara, Pasar Kramat Jati, Pasar Minggu, Pasar Pecah Kulit dan Pasar Mampang Prapatan.
Dari hasil pantauan tersebut tidak ditemukan pedagang yang menjual daging kerbau impor dengan harga Rp 110.000 per kilogram (kg).
Harga rata-rata daging yang dijual ke konsumen, untuk jenis daging sapi segar dijual Rp 110.000 sampai Rp 120.000 per kg dan tergantung jenis potongan dan kadar lemak.
Daging sapi impor sudah proses thawing atau pencairan Rp 90.000 sampai Rp 100.000 per kg di pasar Kramat Jati dan pasar Minggu.
Sedangkan di pasar Jatinegara, Mampang dan Pecah Kulit daging sapi impor dijual Rp 80.000 sampai Rp 90.000 per kg.
Sementara untuk daging kerbau impor dijual Rp 80.000 sampai Rp 90.000 per kg di pasar Kramat Jati dan pasar Minggu, untuk di pasar Jatinegara, Pecah Kulit dan Mampang dijual Rp 75.000 sampai Rp 80.000 per kg.
Untuk tetelan atau jeroan baik lokal dan impor dijual Rp 55.000 sampai Rp 70.000 per kg.
Namun yang perlu diperhatikan konsumen, ditemukan adanya pedagang yang menjual daging kerbau impor (dikenalkan) sebagai daging sapi.
"Umumnya pedagang menjual daging kerbau impor sebagai daging sapi, apabila pembeli teliti baru akan diinfokan sebagai daging kerbau," ujar Dirjen Peternakan Kesehatan Kementan I Ketut Diarmita melalui keterangan resmi, Senin (2/1/2017).
Menurut Ketut, beberapa pedagang yang menjual daging kerbau impor dengan harga diatas Rp 80.000 per kg adalah jenis daging yang sudah dibersihkan dari lemak, sehingga harga jualnya lebih tinggi.
Ketut menambahkan, pendingin daging atau freezer di pasar sudah tersedia, namun kapasitasnya hanya untuk menyimpan stok atau sisa daging yang tidak laku terjual.
Pihaknya mengakui, saat ini belum ada pengawasan terhadap peredaran atau penjualan dari importir atau distributor daging sapi dan kerbau impor.
Dia menegaskan, tidak ditemukan pengoplosan antara daging sapi segar dengan sapi impor, karena secara kasat mata cukup berbeda karena daging sapi atau kerbau impor yang telah di thawing (pencairan) masih basah dan dingin.
Ketut, menyampaikan bahwa pengawasan peredaran daging di pasar adalah tanggung jawab bersama, termasuk ADDI (Asosiasi Distributor Daging Indonesia) yang telah menandatangani MoU dengan Bulog terkait dengan pengawasan distribusi atau penjualan daging kerbau.
"Namun demikian, Ditjen PKH akan segera berkoordinasi dengan institusi atau lembaga terkait untuk menindaklantjuti hal tersebut," pungkasnya.

www.desaingue.com