HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Perbedaan Ternak Sapi RI dengan Negara Lain

 http://economy.okezone.com/read/2016/03/01/320/1324892/perbedaan-ternak-sapi-ri-dengan-negara-lain
 

JAKARTA - Memasuki awal tahun 2016 harga daging sapi terus melambung, terlebih pasca-keluarnya kebijakan mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap daging sapi Januari lalu, meski kebijakan ini telah dicabut namun harga sapi masih tinggi. Penyebab lainnya adalah kelangkaan sapi di dalam negeri sehingga membuat harga daging sapi di pasaran kini mencapai Rp130 ribu per kilogram (kg).
Wakil Menteri Pertanian pada Era SBY, Rusman Heriawan menyatakan untuk menangani permasalahan mahalnya harga daging sapi di Indonesia salah satunya adalah meningkatkan produksi sapi dalam negeri. Namun, menurutnya ini adalah hal yang sulit mengingat struktur peternakan sapi di Indonesia masih buruk tak seperti negara lainnya.
"Supaya sapi ini murah yang paling mendasar produksi sapi dalam negerinya harus lebih banyak lagi, dan itu tidak mudah juga. Karena struktur persapian kita ini tidak seperti negara lain, di Kanada, Brasil, mungkin India, Australia paling utama," jelasnya kepada Okezone di Jakarta.
Menurutnya, negara-negara tersebut mempunyai sistem peternakan yang baik yakni penggembalaan. Sistem penggembalaan ini mempermudah sapi untuk mendapatkan makanan kapan pun, berbeda halnya dengan sistem di Indonesia yakni sistem kandang yang membuat cost ternak jauh lebih mahal.
"Di sana kan sangat efisien, sapi itu dilepas, digembalakan, dia cari makan sendri, rumput tumbuh sendiri cuma paling pupuknya dipindah-pindah, gemuk dia, seharian bisa makan. Kalau disini sistemnya sistem kandang karena kita memang lahannya sangat terbatas. Sistem kandang itu buat ongkosnya jadi mahal. Pakannya beli, rumputnya beli segala macam beli. Kemudian size-nya paling lima ekor. Kita itu tidak efisien," paparnya.
Selain itu, Ia menuturkan sejak dulu masyarakat Indonesia tidak serius dalam melakukan bisnis sapi. Para pemilik sapi hanya sekedar memiliki hobi dan status sosial di masyarakat.
"Di kampung-kampung orang yang punya sapi 5-6 itu rojo koyo, karena barangnya kelihatan ada sapi 5-6 di kandangnya. Dia suka-suka dia. Walaupun kita butuh daging tapi enggak mau jual yah enggak apa-apa gitu, tapi kalau dia butuh uang untuk tahun ajaran baru anaknya, segala macam, dia jual. Jadi enggak mengikuti bisnisnya begitu," paparnya.
Oleh sebab itu, menurutnya untuk dapat menekan mahalnya harga daging sapi serta permasalahan lahan yang tak memadai maka memperdayakan para peternak kecil tersebut adalah hal yang penting. Salah satunya membuat kawasan peternakan yang membuat biasaya logistik jauh lebih murah.
"Membuat peternak-peternak yang kecil-kecil tadi ini kita farming, bentuk kawasan peternakan, desa ternak sehingga bisnisnya itu mulai dari pengadaan pakan, obat-obatan segala macam itu bisa secara bersama," sarannya.

www.desaingue.com