HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Banyak Pengusaha Susu Beralih Jualan Daging Sapi, GKSI: Supply Menurun

 http://ekonomi.rimanews.com/bisnis/read/20160224/263709/Banyak-Pengusaha-Susu-Beralih-Jualan-Daging-Sapi-GKSI-Supply-Menurun



Rimanews - Produksi susu perah di Jawa Timur tahun ini diprediksi menurun sehingga dikhawatirkan dapat berpotensi meningkatnya jumlah susu impor untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan susu (IPS) yang juga terus naik.


 
Ketua Bidang Usaha Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur, Sulistyanto mengatakan kondisi menurunnya produksi susu perah tersebut lantaran populasi sapi perah di Jatim juga terus menurun karena ada indikasi persaingan dengan usaha daging sapi.
 

"Angka kelahiran sapi sebenarnya naiknya tinggi sampai 10% tetapi harga daging sapi saat ini dianggap sangat menarik sehingga pemilik sapi perah justru ingin menjual daging sapinya ketimbang jual susunya seperti yang terjadi di Pujon dan Nongkojajar Malang," jelasnya kepadaBisnis, Selasa (23/02/16).
Selain ada indikasi peralihan bisnis tersebut, menurunnya produksi susu juga diakibatkan oleh faktor alam seperti adanya musim kekeringan akhir tahun lalu yang membuat jumlah pakan sapi berupa rumput berkurang.
Berdasarkan catatan GKSI, produktivitas sapi perah secara nasional pada pertengahan 2015 lalu mampu mencapai 9-12 liter/ekor/hari atau secara total mencapai 1,4 juta-1,6 juta liter/hari dari populasi sapi 357.450 ekor sapi.
"Sampai akhir tahun kemarin produksi sudah menurun dan sampai tahun ini saya tidak yakin produktivitasnya naik, karena sekarang saja jumlah sapi perah di Jatim tinggal 180.000 ekor," jelas Sulistiyanto.
Jika dibandingkan dengan sapi-sapi di Vietnam, produktivitas sapi dalqm negeri memang jauh lebih rendah. Di Vietnam produktivitas sapi perah bisa mencapai 15-20 liter/ekor/hari.
Menurut Sulistiyanto, kondisi rendahnya produktivtas sapi perah di Indonesia ini juga lantaran kurang perhatian dari pemerintah khususnya untuk bantuan perawatan atau bantuan pakan ternak.
Apalagi, 70% peternak sapi di Indonesia tidak memiliki lahan yang cukup agar sapi bisa sehat dan memperoleh makanan rumput yang bagus. Selain itu bibit sapi impor juga mahal, sementara bibit lokal sangat terbatas, dan pakan konsentrat juga cenderung naik harganya.

"Kondisi seperti ini harus ada pembicaraan lebih lanjut dengan pemerintah, peternak, industri pengolahan susu, dan akademisi agar kebutuhan susu dalam negeri tidak bergantung terus pada impor. Sekarang saja,susu produksi lokal cuma bisa menyuplai 30% untuk IPS, sisanya impor," imbuhnya.

www.desaingue.com