HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Pengusaha Diminta tak Datangkan Sapi Asal Jateng, Jatim, dan Bali

http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2015/05/27/328850/pengusaha-diminta-tak-datangkan-sapi-asal-jateng-jatim-dan-bali

SOREANG, (PRLM).- Para pelaku usaha sapi potong diminta untuk tidak mendatangkan sapi asal Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali lantaran dikhawatirkan membawa penyakit mulut dan kuku yang bisa menular kepada manusia. Meski demikian, larangan pemerintah tersebut tidak mempengaruhi stok daging sapi untuk kebutuhan bulan puasa dan Lebaran nanti.
"Kami sudah menerima surat edaran pemerintah tersebut. Namun, untuk stok kebutuhan daging sapi masih mencukupi," ujar Onyas Ruganda, pengusaha penggemukan sapi di Kabupaten Bandung, Rabu (27/5/2016).
Onyas menuturkan, larangan mendatangkan sapi lokal asal Jateng, Jatim, dan Bali tersebut tidak begitu berpengaruh. Soalnya, sejauh ini prosedur mendatangkan sapi tersebut cukup rumit. Selain itu, dia menduga, populasi sapi asal ketiga daerah tersebut juga tidak lebih banyak dari sapi impor.
Dengan demikian, kebutuhan daging untuk bulan puasa dan Idulfitri nanti bisa dipenuhi dengan sapi impor asal Australia. Di kandang miliknya pun saat ini terdapat 5.200 ekor sapi, hampir semuanya impor dari Australia.
Harga sapi impor, menurut dia, juga lebih murah ketimbang lokal. Saat ini harga sapi lokal dihitung Rp 44.000 per kilogram, sedangkan sapi impor Rp 38.000 per kilogram.
Meski demikian, untuk mendatangkan sapi impor tersebut harus melalui prosedur yang ketat. Sapi yang didatangkan harus melalui tes darah di laboratorium untuk menjamin kesehatannya.
"Memang impor juga saat ini sangat ketat. Tapi bagus untuk menjamin kesehatan dan keamanan konsumen dalam negeri, dan kami pun menjualnya tidak ada keragu-raguan," katanya.
Untuk kebutuhan hari raya lebaran nanti, lanjut Onyas, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung. Untuk menyediakan daging sapi kualitas terbaik dengan harga terjangkau, yakni melalui operasi pasar murah.
"Untuk membantu masyarakat Kabupaten Bandung, kami akan menggelar pasar murah. Biasanya saat lebaran itu per kilogram mencapai Rp 150.000. Nah dengan pasar murah kami sediakan dengan harga Rp 105.000 per kilogram. Tapi dibatasi per keluarga hanya 5 kilogram," katanya.
Sementara untuk pengembangan sapi lokal, lanjut Onyas, dirinya menyambut baik upaya pemerintah untuk mengembangkan sapi varietas pasundan.
Namun, dia pesimistis lantaran pemerintah hingga kini belum memberikan subsidi bagi pengusaha pembibitan. "Karena tidak ada subsidi, usaha pembibitan cenderung mati. Soalnya, butuh biaya yang besar untuk memeliharanya," katanya. (Cecep Wijaya/A-89)***

www.desaingue.com