HEAD OFFICE
AJK Center
Komplek Bidex Blok F16-17
Jl.Pahlawan Seribu, CBD BSD City
Telp. +62 21 531 67 889.
Fax. +62 21 531 67 899
www.agrisatwa.com
Contact :dwi@agrisatwa.com

Upaya Bupati Ngogesa Sitepu Dongkrak Populasi Sapi di Langkat, Sumatera Utar

http://www.jawapos.com/baca/artikel/17031/Upaya-Bupati-Ngogesa-Sitepu-Dongkrak-Populasi-Sapi-di-Langkat-Sumatera-Utara
 
KOMODITAS unggulan Langkat adalah pertanian, perkebunan, dan peternakan. Tiga bidang itu bisa disinergikan oleh Bupati Langkat Ngogesa Sitepu. Misalnya, menyinergikan perkebunan dengan peternakan sapi potong. Perkebunan di Langkat mencapai ratusan ribu hektare. Sebagian besar milik PTPN dan sebagian lainnya milik swasta atau perorangan. Mayoritas kebun kelapa sawit.
Menurut Ngogesa, dahulu peternak membawa sapinya ke perkebunan agar bisa makan rumput yang tumbuh di antara pohon sawit. Tidak semua perkebunan sawit menerima dengan tangan terbuka kehadiran peternak dan sapinya ke lahan mereka. Ada yang sampai membuat parit besar agar sapi tidak bisa masuk ke area perkebunan.
”Saya ajak dinas peternakan untuk mencari jalan keluar agar para peternak bisa mendapatkan pakan dengan lebih efektif,” kata Ngogesa saat diwawancarai di rumah dinasnya April lalu.
Ngogesa kemudian mengajak peternak membuat kelompok peternak. Setiap kelompok terdiri atas 15–20 orang dengan jumlah sapi 25–30 ekor. Kelompok peternak itu kemudian difasilitasi untuk membuat kandang bersama bagi sapi-sapi mereka. Tempatnya bisa di lahan salah satu peternak.
Bupati kemudian menggelontorkan bantuan Rp 300 juta kepada setiap kelompok peternak. Uang itu digunakan untuk membuat kandang yang representatif, membuat pakan, mengolah pupuk organik, dan sebagainya. ”Setidaknya sudah ada 300 kelompok yang merasakan program ini,” kata bupati dua periode itu.
Dengan kandang bersama tersebut, dinas peternakan lebih mudah untuk memantau dan membina mereka. Misalnya, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan menghitung populasi.
Untuk urusan pakan, pemkab mendekati pemilik perkebunan di Langkat. Pemkab meminta pihak perkebunan memberikan limbah sawit kepada kelompok peternak untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pakan sapi. Limbah sawit itu dicampur rumput dan berbagai bahan lain, lalu dibuat konsentrat yang sangat efektif untuk menggemukkan sapi. Pemkab juga meminta perkebunan membantu petani dan peternak melalui program CSR (corporate social responsibility).
Untuk menambah populasi sapi, dinas peternakan mengembangkan inseminasi buatan. Setiap tahun dinas peternakan mengirim petugas inseminasi buatan ke Bogor, Semarang, atau Singosari (Malang) untuk berlatih. Petugas inseminasi buatan di Langkat kini berjumlah 85 orang. Dari jumlah itu, 30 orang di antaranya berstatus PNS.
”Untuk inseminasi ini, peternak diminta membayar Rp 30 ribu–Rp 50 ribu per ekor. Uang itu membayar insentif petugas inseminasi buatan,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Medan Area itu.
Selain itu, pemkab membangun UPT rumah potong hewan. Ke depan, kata Ngogesa, para peternak menjadi produsen daging. Jadi, peternak tidak lagi menjual sapi hidup, tetapi sudah bisa mengirim dalam bentuk daging.
Inovasi Ngogesa di bidang peternakan membuahkan hasil menggembirakan. Kalau saat awal menjabat pada 2009 populasi sapi di Langkat hanya 70 ribu ekor, tahun lalu populasinya mencapai 170 ribu ekor. ”Target saya pada 2019 populasi sapi melebihi 200 ribu ekor,” tandasnya.
Selalu Surplus Beras
DINAS Pertanian Langkat pantas mendapat penghargaan dari Bupati Ngogesa Sitepu pada peringatan Hari Otonomi 27 April lalu. Kinerja dinas tersebut juga membuat Ngogesa puas. Selama ini, Langkat selalu surplus padi. Bahkan, kabupaten itu menjadi salah satu lumbung padi bagi Sumatera Utara.
Total produksi gabah kering panen pada 2014 mencapai 385.717 ton. Itu dihasilkan dari lahan seluas 65.602 hektare dengan produktivitas 60,12 kuintal. Dengan penduduk 978.734 jiwa, kebutuhan beras di Langkat sebesar 127.235 ton. ”Kami masih surplus 86.192 ton,” kata Ngogesa saat diwawancarai di Stabat, ibu kota Langkat.
Ngogesa mengakui bahwa ada penurunan jika dibandingkan dengan 2013. Hal itu disebabkan cuaca dan bencana banjir. Sebagian sawah di Langkat adalah tadah hujan. Belum semua sawah mendapat irigasi.
Sebagai mantan petani, Ngogesa tahu betul soal perkebunan dan pertanian. ”Kepala dinas pertanian tidak bisa bohong sama saya. Saya tahu betul tentang sawah dan kebun,” tutur dia.
Menurut Ngogesa, penghargaan bagi satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diberikan setiap tahun. Tujuannya, memotivasi jajaran SKPD agar berlomba-lomba meningkatkan kinerja. (c6/c11/tom)

www.desaingue.com